Dua belas puisi dalam Suara Pemuda Satu diterbitkan




 Selingga.com (15/01) Dabo.Seni sastra di Bumi Bunda Tanah Melayu ini mulai menampakkan kembali geliat nya.Melalui kegiatan pembacaan puisi dalam “Suara Pemuda Satu” pada peringatan Hari Sumpah Pemuda sebelumnya,pihak PK KNPI Kecamatan Singkep bersama dengan Pemerintahan Kabupaten Lingga,telah meluncurkan buku puisi dari acara tersebut.



Sebanyak 12 puisi yang dibacakan langsung oleh pengarang nya,telah dihimpun menjadi sebuah buku puisi.Termasuk puisi “Mengadu Kepada Presiden”, karya Bupati Lingga Alias Wello.

Bupati Lingga juga mengapresiasikan penerbitan buku puisi ” Suara Pemuda Satu”,dan berharap kedepan nya akan banyak melahirkan bakat-bakat baru bagi generasi pemuda saat ini.



” Alhamdulillah,aku tidak menyangka kalau sampai dijilidkan oleh Pak Kisan (Camat Singkep sebelumnya-red) itu.Jadi pertemuan (acara pembacaan puisi-red) kita kemarin itu,betul-betul bukan hanya sekedar mengisi acara saja.Rupanya sudah terbit dokumentar aksi sedemikian baiknya.Di minta nantinya bisa lahir bakat-bakat baru,terutama untuk anak-anak kita,biar bergairah terhadap seni.”Kata Alias Wello selaku Bupati Lingga saat ditemui di Dabo pada Jum’at (13/01) tadi.
Alias Wello pun melihat kalau kegiatan kegiatan seni-budaya terkadang tidak rutin karena ketergantungan dengan anggaran.



Pembaca puisi di buku Suara Pemuda Satu
” Terkadang kita kan,kegiatan-kegiatan sastra,budaya seperti ini,terkadang proyek.Kalau ada proyek,baru lah giat latihan,tidak rutin.Karena anggarannya memang tidak ada rutin,ini lah susah nya.”Kata Alias Wello.
Penyair Lingga dan pemilik buku puisi “Ladang Hati” Norman Sulaiman kepada Selingga.com pada Minggu (15/01) tadi turut juga memberikan apresiasi terhadap terbit nya buku puisi “Suara Pemuda Satu” ini.
” Alhamdulillah adanya geliat ini,saya bersyukur kepada Allah bahwa pemuda itu dan KNPI nya sudah menunjukkan diri bagi sastra di Kabupaten Lingga ini.Sasta di Lingga harus kita naik kan.Karena sastra juga berasal dari Tanah Melayu.”Kata Norman.
Norman Sulaiman juga menambahkan kalau diri nya berharap akan banyak sastrawan-sastrawan muda yang lahir dari Tanah Melayu ini.



Pembaca puisi di buku Suara Pemuda Satu
 
” Dari awal saya bergerak sendiri.Berjibaku sendiri.Tetapi alhamdulillah pada dekade 2016 tadi,sudah banyak saya lihat bibit-bibit sastrawan-sastrawan muda yang selama ini memendam diri.Tidak mau menunjukan diri.Terlepas dari sempurna atau tidak,kita buang dulu.Yang penting kita sudah berani berbuat.Tidak ada kata tidak bisa,tetapi itu harus jadi.Saya ingin tidak hanya saya saja,tetapi ada norman-norman lain nya.”Papar Norman Sulaiman.
Dua belas puisi yang di bacakan langsung oleh pengarang nya dalam buku Serapah Deklamator Suara Pemuda Satu adalah :
” Mengadu Kepada Presiden ” Karya : Alias Wello.
” Alamak,Engkau Masih Lunak (pesan,bagi puak negeri) ”
Karya : Agus Norman.
” Ayahanda Ir.Soekarno.”
Karya : Kisan Jaya.
” Bercerai Janji Mengikat Sumpah.”
Karya : Said Syahfela.
” Tidak untuk siapa-siapa.”
Karya : Norman Sulaiman.
” Maut Badik Maut ku.”
Karya : Alang Dilaut.
” Hulubalang kan Terbilang.”
Karya : Syaufi Anwar Sabran.
” Sumpah Bukan Sampah.”
Karya : Irham.YS.
” Kota Bandar.”
Karya : Nofriadi Putra.
” Mimpi Anak Laut.”
Karya : Densy Diaz.
” Pat Pat Kenali Sifat.”
Karya : Desri Efrizal.(Im).


 Berita Lensa :

Labels: PUISI

Thanks for reading Dua belas puisi dalam Suara Pemuda Satu diterbitkan. Please share...!

0 Comment for "Dua belas puisi dalam Suara Pemuda Satu diterbitkan"

Mantaap

Berlanganan Blog ini

Followers

Back To Top