Agar Istiqomah dalam Berhijrah

Pict Source : www.remajaislamhebat.com

[cekguharakie]-khutbah cekgu-
Masjid Al Aula 14 September 2018

Ma’syiral Muslimin Wal Hadirin Rahimakumullah
Setiap hari adalah pertambahan usia, pertambahan usia adalah pertambahan nilai dalam kehidupan ini. Sebagai insan yang beriman tentu, setiap aktivitas hidup adalah ibadah, dan ibadah adalah bentuk penghambaan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Sang Khalik Allah Azza wajalla, untuk itu Para hadirin, Marilah kita tingkatkan ketaqwaan  kita kepada Allah Swt, dengan implementasi nilai nilai kehidupan yang berkepribadian, dengan implementasi nilai-nilai kehidupan yang penuh dengan keimanan. Dengan harapan , agar ketaqwaan yang kita imlementasikan senantiasa  dalam keistiqomahan.
Sidang Jumat Rahimakumullah

Dalam sebuah majelis taklim, Imam Hasan Al Bashri ditanya oleh seseorang yang merasa malu karena dia berulang kali berbuat dosa lalu bertobat tapi kembali berbuat maksiat, “Tidakkah salah seorang diantara kami malu. Jika dia berdosa lalu bertaubat. Kemudian berbuat berdosa lagi lalu bertaubat lagi. Dan melakukan maksiat lagi kemudian beristighfar lagi?” Sang Imam menjawab, “Tahukah kalian tujuan terbesar syaithan?”, ujarnya. “Yakni agar kalian berputus asa dari rahmat Allah dan berhenti memohon ampun setelah mengulangi dosa. Maka jika dosa terjadi lagi, teruslah bertaubat. Maka jika maksiat terulang kembali, teruslah beristighfar.”
Hadirin Rahimakumullah,

Nasihat Imam Hasan al-Bashri ini memberikan kabar gembira kepada kita bahwa sebesar apapun dosa-dosa kita dan seberapa sering kita melakukan maksiat, maka sesungguhnya ampunan Allah jauh lebih luas dari dosa kita. Hal ini sebenarnya juga sudah ditegaskan Rasulullah dalam sebuah sabdanya: 

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا - وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا - فَقَالَ: رَبِّ أَذْنَبْتُ - وَرُبَّمَا قَالَ: أَصَبْتُ - فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ رَبُّهُ: أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا، أَوْ أَذْنَبَ ذَنْبًا، فَقَالَ: رَبِّ أَذْنَبْتُ - أَوْ أَصَبْتُ - آخَرَ، فَاغْفِرْهُ؟ فَقَالَ: أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا، وَرُبَّمَا قَالَ: أَصَابَ ذَنْبًا، قَالَ: قَالَ: رَبِّ أَصَبْتُ - أَوْ قَالَ أَذْنَبْتُ - آخَرَ، فَاغْفِرْهُ لِي، فَقَالَ: أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثَلاَثًا، فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ.))
 
Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada seorang hamba yang melakukan dosa lantas hamba itu berkata, 'Ya Tuhanku, aku telah melakukan dosa, maka ampunilah aku'. Maka Tuhannya berkata: 'Hamba-Ku tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang bisa mengampuni dosa dan menghukumnya, maka Aku mengampuni dosa hamba-Ku.' Kemudian orang tersebut tidak melakukan dosa selama beberapa waktu, kemudian ia kembali melakukan dosa lagi.

Ia pun berkata, 'Wahai rabbku, aku telah berdosa, maka ampunilah perbuatanku.' Maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku tahu bahwa dia mempunyai Tuhan yang bisa mengampuni dosa dan menghukumnya, maka telah Aku ampuni hamba-Ku.'

 Kemudian orang tersebut tidak melakukan dosa selama beberapa waktu, kemudian ia melakukan dosa lagi, sehingga ia berkata, 'Rabbi, telah kulakukan dosa, maka berilah aku ampunan terhadapnya.' Maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukumnya, maka Aku telah mengampuni hamba-Ku (Allah mengulanginya sebanyak tiga kali), maka hendaklah ia beramal sekehendaknya.” (Hr. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut memberi penjelasan yang sangat gamblang, bahwa Allah tidak akan bosan memberi ampun kepada hamba-Nya, selama hamba tersebut juga tidak bosan untuk meminta ampun. Oleh karena itulah, kita dilarang bersangka buruk dan berputus asa dari rahmat Allah. Sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam QS. Az Zumar 53,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Az-Zumar: 53)

Pada dasarnya setiap kita selalu melakukan dosa. Selama kita masih diberi nafas kehidupan oleh Allah, pasti kita akan terjatuh kepada dosa. Tidak ada satupun manusia yang mampu menghindarinya, kecuali para Nabi yang Ma’shum, yang selalu mendapatkan penjagaan dari Allah dari dosa. Oleh karena itu, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa orang yang terbaik bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa. Orang yang paling baik adalah mereka yang ketika jatuh ke dalam kemaksiaan, segera berusaha bangkit dan membersihkan dosanya dengan bertaubat kepada Allah.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (Hr. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan bahwa yang dimaksud at-tawwabun adalah “Orang yang mau kembali kepada Allah, dari kemaksiatan menuju ketaatan.“ Artinya, ia mau berhijrah untuk meninggalkan maksiat menuju ketaatan dan pengabdian kepada Allah. Maka, mereka yang melakukan maksiat, kemudian menyesali perbuatan dosanya, lalu bersungguh-sungguh bertaubat, sesungguhnya dia telah berhijrah. Sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang yang harta dan jiwa muslim lainnya aman dari (perbuatan jahat)nya, dan orang yang berhijrah adalah seseorang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (Hr. al-Bukhari, an-Nasa’i dan Ibn Majah)

Berdasarkan hadis tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa diantara makna hijrah adalah meninggalkan larangan Allah yang merupakan perbuatan dosa. Dengan kata lain, orang yang berhijrah akan berusaha untuk membersihkan dirinya dari dosa, dan selanjutnya berusaha untuk terus konsisten/istiqomah dalam ketaatan kepada Allah.
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Dengan berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya maka seseorang akan memperoleh banyak keutamaan. Karenanya semangat hijrah tersebut hendaknya terus terjaga hingga maut menjemput kita. Diantara keutamaan yang didapatkan oleh orang yang berhijrah adalah:

Pertama; akan diberikan keluasan rezeki. Allah berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An-Nisa’: 100).

Kedua; dihapuskan kesalahan-kesalahannya dan dimasukkan ke dalam surga. Firman Allah ta’ala:

فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ
Maka, orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Pada sisi-Nya pahala yang baik.” (Qs. Ali Imran: 195).

Ketiga; ditinggikan derajatnya di sisi Allah.

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(Qs. At-Taubah: 20-22).

Keempat; meraih keridhaan Allah ta’ala.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah ” (Qs. At-Taubah: 100).

Hadirin rahimakumullah,  

Selanjutnya, apakah cara yang bisa kita tempuh agar kita tetap istiqomah dalam ketaatan setelah kita berhijrah? Paling tidak ada 4 (empat) bekal yang harus kita siapkan dalam kita berhijrah. 

Yang pertama adalah berani berkorban atau tadhiyyah dalam melakukan hijrah. Hijrah adalah melakukan perubahan yang besar dan mendasar pada kehidupan kita. Oleh karenanya berhijrah membawa konsekuensi meninggalkan zona nyaman yang selama ini kita nikmati. Dan tentunya hal ini membutuhkan keberanian dan pengorbanan yang besar. 

Yang kedua adalah senantiasa tawakkal kepada Allah. Yaitu berserah diri sepenuhnya hanya kepada Allah. Kita pasrahkan hidup kita kepada Allah setelah menempuh jalan kebaikan. Kita yakinkan dalam hati kita bahwa Allah akan menjamin kehidupan yang tenang, dan Ia pasti tidak akan menyia-nyiakan ikhtiar kita untuk menjadi insan yang lebih baik.
Yang ketiga adalah bekal ilmu. Yaitu terus belajar dan pantang berhenti memperdalam ilmu agama. Ilmu agama inilah yang akan bisa menjadi panduan kita dalam meniti jalan kebaikan yang mulai kita tapaki.
Dan yang keempat adalah bekal tawadhu, yaitu perasaan rendah hati. Tidak merasa suci dan bersih karena sudah bertaubat. Tidak merasa paling shalih karena sudah mulai melakukan kebaikan-kebaikan. Hendaknya kita senantiasa tawadhu’ dan menyadari bahwa karunia hijrah adalah murni anugerah Allah. Dengan demikian kita bisa berharap, bahwa Allah akan terus melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita.
Semoga Allah selalu menguatkan kita agar mampu istiqomah dalam berhijrah. “Yaa muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala diinik”




Demikianlah khotbah singkat ini semoga bermanfaat bagi kita bersama,
Dan tentunya setiap perkataan yang lebih baik adalah menyeru kejalan allah , beramal sholeh,  dan semoga kita semua termasuk orang orang tunduk kepada perintahnya dan menempuh jalanNYa

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ


Khutbah Ke 2

اَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَلاَهُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.. أَمَّا بَعْدُ: أَيــُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأيــُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ 
وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


 



وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ

Labels: Khutbah Jumat

Thanks for reading Agar Istiqomah dalam Berhijrah. Please share...!

0 Comment for "Agar Istiqomah dalam Berhijrah"

Mantaap

Berlanganan Blog ini

Followers

Back To Top