Mendekatkan Jarak antara Islam dan Manusia Muslim

cekguharakie]-Khutbah Jumat- MUA, 14 Desember 2018


Khutbah Pertama
الۡـحَمۡدُ لِلّهِٰ رَبِّ الۡعَٰلَمِينَ، نَـحۡمَدُهُ وَنَسۡتَعِيۡنُهُ وَنَسۡتَغْفِرُهُ، وَنَعُوۡذُ بِاللّٰهِ مِنۡ شُرُوۡرِ أَنۡفُسِنَا وَمِنۡ سَيِّئَاتِ أَعۡمَالِنَا، مَنۡ يَهۡدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنۡ يُضۡلِلۡ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشۡهَدُ أَن لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيۡكَ لَهُ، وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمۡ عَلَى مَحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصۡحَابِهِ أَجۡمَعِين، وَمَنۡ تَبِعَهُمۡ بِإِحۡسَانٍ إِلَى يَوۡمِ الدِّيۡن.
أَمَّا بَعۡدُ 
:
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوۡصِيۡكُمۡ وَ نَفۡسِى بِتَقۡوَى اللَّهِ فَقَدۡ فَازَ الۡمُتَّقُوۡنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
((يَٰٓأَ يُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ  وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ))  
((يَٰٓأَ يُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ وَقُولُوا قَوۡلًا سَدِيدًا يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَالَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ ۞ وَمَنۡ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا))

Segala puji dan syukur hanya pantas kita sanjungkan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas limpahan nikmat dan karunia kepada kita yang tiada terkira jumlah maupun nilainya. 

Salam serta shalawat senantiasa kita sampaikan kepada Nabi yang agung, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, shahabat, dan siapapun yang mengikutinya hingga akhir jaman.


Jama’ah jum’at yang dirahmati Allah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan dan selalu menyiapkan amalan terbaik untuk akhirat kita. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُوْنَ ١٨
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr: 18)


Semoga Allah meridhai kita semua, memudahkan jalan kita menuju surga-Nya, memudahkan memperoleh pertolongan-Nya, dan senantiasa menjaga kita dan semua umat Islam dari segala musibah dan kejahatan. Aamiin, yaa rabbal’aalamiin.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada Kesempatan yang berbahagia ini,  khatib mengajak kepada kaum muslimin,  dan terutama kepada khatib sendiri, marilah kita bersama-sama bertaqwa kepada Allah Swt, dengan sebenar-benarnya taqwa, dalam arti,  melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya , dan taqwa yang dapat mengikis habis segala kemusyrikan dan kemunafikan,  sehingga kita betul2 menjadi manusia muslim yang syamil mutakkamil dan berkarakter.
Adapun Judul khutbah yanga akan khatib sampaikan  pada kesempatan ini adalah : Mendekatkan Jarak Antara Islam dan Manusia Muslim
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah
Sadarkah kita, tatkala memasuki usia dewasa, tanpa melalui proses yang berliku, tiba-tiba telah mendapati diri kita sebagai seorang Muslim. Orang tua, suasana rumah, dan lingkungan sekitar, telah membawa,   kepada suasana batin yang penuh iman dan larut dalam tradisi ubudiah. 

Merupakan suatu keberuntungan bagi kita  ketika dilahirkan dalam keturunan  Islam, Dan merupakan keberuntungan pula karena Allah telah menamai kita Muslim sejak dahulu.
Dalam QS. Alhajj, 22: 78 Allah Berfirman

Artinya:    Dia ( Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan begitu pula dalam AlQur’an ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu,  dan agar kamu menjadi saksi atas segenap umat manusia



Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Namun lebih merupakan suatu keberuntungan bagi kita ketika dalam ber-Islam melakukan pencarian makna ber-Islam sesungguhnya, dengan melakukan kontemplasi atau perenungan tanpa meninggalkan ritual ibadah  yang kita pahami selama ini.



Kita meyakini bahwa itu merupakan perintah dari pencipta yang kita kenal dengan nama Allah Swt, suatu zat yang  mutlak yang harus diakui oleh umat manusia. Tanpa melakukan kontemplasi tentang makna sesungguhnya dalam berislam, ia sudah terkena percikan–percikan dari lingkaran konsekwensi keimanan. 

Namun, disinilah letak kejumudan berfikir sebagian kaum muslimin dalam melakukan kontemplasi berislam sesungguhnya, dengan merasa dilahirkan dalam keluarga yang menganut Agama Islam, sudah merasa berislam dengan sesungguhnya, disadari atau tidak, ritual yang kita jalankan adalah sebagai rutinitas ritual belaka. 

Tanpa memaknai beribadah dalam arti sesungguhnya maka ibadah yang dilakukan tidak memiliki dimensi spiritual yang membumi dan menghunjam didalam diri manusia. 

Faktanya ritual ibadah yang kita jalani tidak berbanding lurus dengan implementasi style/gaya hidup kita, yang terjadi dilapangan ummat Islam  mayoritas dalam kuantitas,  selalu kalah  memenangkan pertarungan  eksistensi agamanya di muka bumi, penindasan, pelecehan dan pemasungan hak–hak manusia dan selalu umat Islam dijadikan korban .

Hadirin Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah



Fathi Yakan Rahimahullah dalam karyanya yang berjudul  madza ya’ni intima’i lil islaam,  apa komitmen saya terhadap islam menjelaskan bahwa ber-Islam dalam arti sesungguhnya adalah dengan kemurnian pemahaman dan pelaksanaan yakni pada tataran teoritis sampai menghadirkan dalam dunia empiris/lapangan. 

Menjadikan muslim yang komitmen terhadap Islam dan menginternalisasi nilai – nilai agama dalam dirinya serta melakukan internalisasi Islam kepada setiap umat manusia khususnya ummat Islam yakni membentuk pribadi Islam yang meng-Islamkan pribadi lain



Komitmen kepada Islam bukanlah warisan atau keturunan. Bukan pula komitmen sebatas penampilan luar, melainkan komitmen menyesuaikan diri dengan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. 

Islamisasi diri sebagai langkah awal internalisasi memasukan Islam dalam pribadi, diantaranya adalah; mengislamkan aqidah, ibadah, akhlak, keluarga, lingkungan dan mampu mengalahkan hawa nafsu. 

Setelah internalisasi Islam kedalam diri, ternyata tidak cukup dengan menata kesholehan pribadi saja. Harus ada langkah kedua, yakni pribadi yang islam itu harus melakukan terobosan dan gerakan  dengan mengajak orang lain untuk mengikuti langkahnya sehingga terciptalah pribadi Islami yang membentuk komunitas islami . 

Dalam melakukan penetrasi, muslim tidak bisa melakukannya sendiri–sendiri harus ada gerakan yang terorganisir dalam merealisasi keinginan tersebut, inilah yang disebut dengan Harokah Islamiyah yang merupakan bagian kedua yang harus dilakukan oleh pribadi–pribadi Islami tersebut yakni; berkontribusi aktif dan mempunyai komitmen dalam gerakan keislaman dengan cara mempersembahkan hidup dan meyakini kewajiban berjuang hanya untuk Islam dan memahami pilar–pilar perjuangan Islam.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah


Agar tercipta jarak yang dekat antara Islam dan Manusia Muslim sehingga internalisasi nilai rabbani semakin kuat maka ada tiga tahapan rekonstruksi yang harus dilakukan:  

Pertama, tahapan afiliasi, yakni memperbaharui afiliasi kaum muslimin kepada Islam kembali, sebab keislaman kaum Muslimin saat ini lebih banyak dibentuk oleh warisan lingkungan sosial, bukan dari pemahaman dan kesadaran yang mendalam tentang Islam. Keislaman dengan basis seperti ini tidak memiliki imunitas yang membuatnya mampu bertahan dari semua bentuk invasi budaya. 

Oleh karena itu, sebuah goncangan kecil sudah cukup memadai untuk mengubah warna kehidupan kaum Muslimin.



Kedua, tahapan partisipasi, setelah memperbaharui keislaman dan memperbaiki pemahamannya kepada Islam, setiap Muslim harus dibawa kedalam komunitas Muslim yang besar, dimana ia menjadi bagian dari masyarakat dan berpartisipasi membangun masyarakat tersebut. 

Pada tahapan pertama kita menciptakan manusia Muslim yang shalih, maka tahapan kedua, manusia yang shalih itu kita leburkan kedalam masyarakat, agar ia mendistribusi keshalihannya kepada yang lain, agar keshalihan individu itu berkembang menjadi keshalihan kolektif



Ketiga, tahapan kontribusi,

Kita harus memiliki spesialisasi bidang ilmu yangkita yakini dapat menjadi unggul. Kita tidak akan menjadi segalanya dan tidak akan sanggup melakukan segalanya. Sebagai kontributor kita harus mengetahui letak titik krmampuan kita.



Setiap Muslim harus memberikan kontribusi aktif, sekecil apapun peranannya dalam masyarakat sangat menentukan eksitensi Islam ini di tengah-tengah kehidupan ummat manusia sehingga berpengaruh dalam setiap dimensi kehidupan.

Hadirin Sidang Jum’at Yang dimuliakan

Dengan memilih sikap islam seperti itu berarti kita sudah memenuhi sikap Salah Satu firmannya : QS Albaqarah :2 : 208 
  
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman ! masuklah kedalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaithan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu.



Islam, bagaimanapun dapat dengan mudah memenangkan pertarungan di tataran ideologi dan pemikiran, meskipun pertarungan yang sesungguhnya terletak diantara kenyataan; dikeramaian jalanan, di kegaduhan pasar, di belantara politik, di panggung budaya, di tengah desingan mesiu, dan diseluruh pojok bumi. 

Oleh karena itu  kebenaran Islam layaknya sebuah pedang, dan sedang menanti tangan perkasa dari sang pahlawan.



Inilah tugas yang harus dilakukan manusia yang mereka terlahir dalam Keturunan Islam, agar Islam tidak hanya labelisasi saja untuk mendapat legalitas dalam hidup bermasyarakat dan bernegara ending dari semua itu adalah eksistensi agama ini harus terjaga di muka bumi ini secara kuantitas dan kualitas tentunya.***

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ




Khutbah Kedua
الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرۡسَلَ رَسُولَهُ بِالۡهُدَىٰ وَدِيۡنِ الۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُ عَلَى الدِّيۡنِ كُلِّهِ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيۡدًا.

أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيۡكَ لَهُ، وَ أَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَ رَسُوۡلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمۡ عَلَى مَحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ وَمَنۡ تَبِعَهُمۡ بِإِحۡسَانٍ إِلٰي يَوۡمِ الدِّيۡنِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوۡصِيۡكُمۡ وَنَفۡسِي بِتَقۡوَى اللّٰهِ تَعَالٰى فَقَدۡ فَازَ الۡمُتَّقُوۡنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَاليٰ فِي الۡقُرۡاٰنِ الۡكَرِيۡمِ: ((يَٰٓأَ يُّهَا ٱلَّذِيۡنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوۡتُنَّ إِلَّا وَ أَنتُم مُّسۡلِمُون))
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم:
((إِنَّ ٱللَّهَ وَ مَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ، يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيۡهِ وَسَلِّمُوا تَسۡلِيمًا))
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيۡتَ عَلَى إِبۡرٰهِيۡمَ وعَلَى اٰلِ إِبۡرٰهِيۡمَ إِنَّكَ حَمِيۡدٌ مَجِيۡدٌ. وَبَارِكۡ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكۡتَ عَلَى إِبۡرٰهِيۡمَ وعَلَى اٰلِ إِبۡرٰهِيۡمَ، إِنَّكَ حَمِيۡدٌ مَجِيۡدٌ.
اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ  لِلۡمُسۡلِمِيۡنَ وَالۡمُسۡلِمَاتِ، وَالۡمُؤۡمِنِيۡنَ وَالۡمُؤۡمِنَاتِ، الۡأَحۡيَآءِ مِنۡهُمۡ وَالۡأۡمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيۡعٌ قَرِيۡبٌ مُجِيۡبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا اغۡفِرۡ  لَنَا وَلِإِخۡوَانِنَا الَّذِيۡنَ سَبَقُوۡنَا بِالۡإِيۡمَانِ، وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوۡبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيۡنَ آمَنُوۡا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوۡفٌ رَّحِيۡم.
رَبَّنَا ظَلَمۡنَا أَنۡفُسَنَا وَإِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡخَاسِرِيۡنَ.
رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٍ وَاجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِيۡنَ إِمَامًا.
رَبَنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنۡيَا حَسَنَةً وَفِي الۡأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
سُبۡحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوۡنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الۡمُرۡسَلِينَ، 

Labels: Khutbah Jumat

Thanks for reading Mendekatkan Jarak antara Islam dan Manusia Muslim. Please share...!

0 Comment for "Mendekatkan Jarak antara Islam dan Manusia Muslim"

Mantaap

Berlanganan Blog ini

Followers

Back To Top